Minggu, 28 April 2013

Antara Factory Outlet dan Kemacetan Bandung

DAMPAK MENJAMURNYA PEMBANGUNAN FACTORY OUTLET(FO) DI KOTA BANDUNG TERHADAP LINGKUNGAN

            Aktivitas manusia dalam upayanya mengelola sumber daya alam tentu akan menimbulkan dampak, baik yang bersifat positif maupun negatif. Untuk memenuhi kebutuhan hdupnya hingga mencapai kemakmuran, manusia akan melakukan kegiatan pembangunan dan pengembangan yang sangat bergantung pada potensi sumber daya hayat dan juga non hayati. Pembangunan yang bersifat fisik akan lebih terlihat dampaknya secara nyata terhadap lingkungan sekitar.
            Dalam pelaksanaan proyek pembangunan yang bersifat fisik yaitu berbentuk bangunan yang menjalankan suatu rencana usaha dan kegiatan tertentu dapat menimbulkan dampak yang merugkan terhadap lingkungan sekitarnya. Tetapi dampak negatf tersebut kurang diperhatikan oleh para pelaku dan pemilik rencana usaha dan kegiatan tersebut karena lebih memperhatikan masalah biaya, mutu, dan waktu.


            Pada dasarnya, kegiatan pembangunan apalagi yang bersifat fsik dan berhubungan dengan pemanfaatan sumber daya alam jelas berpotensi menimbulkan perubahan ekosistem yang akan mengakibatkan munculnya berbagai dampak besar dan penting yang bersifat positif maupun negatif. Oleh karena itu, kegiatan pembangunan yang dilaksanakan seharusnya berwawasan lingkungan.
            Pembangunan yang berwawasan lingkungan adalah upaya sadar dan berencana menggunakan dan mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang terencana dan berkesinambungan untuk menngkatkan mutu hidup. Dengan kata lain, pembangunan berwawasan lingkungan merupakan upaya memaksimalnya potensi sumber daya yang ada secara bijaksana dan tepat guna sehingga tidak semata-mata mengeksploitasi tetapi juga melindungi lingkungan sebagai titipan dari generasi yang akan datang.
            Dewasa ini kesadaran masyarakat Indonesia terhadap lingkungan hidup mulai membaik meskipun masih terbilang rendah jika dibandingkn dengan negara-negara lain. Wujud kepedulian masyarakat terhadap lingkungan hidup adalah dengan berlakunya analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).
            Dalam Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan disebutkan bahwa AMDAL merupakan kajian mengenai dampak besar dan penting untuk pengambilan keputusan suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hdup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
            Pembangunan suatu proyek tentunya membutuhkan kajian serius dan mendetil sehingga dapat digunakan sebagai acuan dalam pengambilan keputusan bagaimana kelanjutan dari proyek tersebut. Sehubungan dengan permasalahn tersebut mak digunakanlah AMDAL. AMDAL bermanfaat untuk menjamin suatu usaha atau kegatan pembangunan agar layak secara lingkungan. Dengan AMDAL, suatu rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan diharapkan dapat meminimalkan kemungkinan dampak negatif terhadap lingkungan hidup dan mengembangkan dampak positif, sehingga sumber daya alam dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
            Dengan adanya AMDAL dalam suatu proyek maka dapat mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan serta pemborosan sumber daya alam secara lebih luas, menjamin keberlangsungan usaha dan/atau kegiatan karena adanya proporsi aspek ekonomis, tekns dan lingkungan, dan secara luas dengan adanya AMDAL dapat diketahui sejak dini dampak positif dan negatif akibat adanya suatu kegiatan sehingga dapat menghindari terjadinya dampak negatf dan meraih dampak positifnya serta melaksanakan kontrol terhadap pemanfaatan sumberdaya alam dan upaya pengelolaan lingkungan.
            Proyek pembangunan biasanya berada di kawasan pusat pertumbuhan baik ekonomi, sosial, budaya maupun politik. Lokasi proyek tentunya dimaksudkan untuk menguntungkan pemrakarsa proyek dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
            Salah satu kota besar di Indonesia yang memiliki potensi dan peluang rencana usaha dan kegiatan adalah Bandung. Bandung merupakan kota yang memiliki banyak daya tarik yang bersifat alami dan juga buatan. Berkat industri kreatif dari masyarakat Bandung sehingga salah satu ikon yang paling menonjol bagi Bandung adalah produk fashion, sehingga Bandung dikenal dengan wisata belanjanya.
            Factory Outlet (FO) merupakan daya tark yang dimiliki kota Bandung sebagai kota yang terkenal dengan wisata belanjanya. FO brhasil menarik banyak peminat dari berbagai kota d Indonesia, dan salah satunya adalah kota Jakarta. Berbagai macam jenis mode pakaian lengkap ditawarkan oleh FO yang berada di Bandung dengan berbagai alternatif pilihan yang menarik pendatang luar kota untuk mengunjungi kota Bandung.
            Pembangunan FO tentunya akan membawa dampak besar dan penting bagi lingkungan sekitarnya. Pelaksanaan proyek pemangunan FO akan menghasilkan suatu produk yang akan mengakibatkan perubahan pada tingkat pengetahuan dan keterampilan baru bagi masyarakat sekitarnya terutama karyawannya. Perubahan yang dialami tentunya akan menimbulkan persepsi tersendiri terhadap lingkungan dan akhirnya akan mempengaruhi sikap dan kebijakan dalam pembangunan dan pengelolaan lingkungan.
            Untuk mendirikan sebuah FO bukanlah perkara yang mudah terutama di kota besar seperti Bandung. Setiap pembangunan sekecil apapun pada akhirnya akan menimbulkan dampak besar dan penting bagi lingkungan hidup di sektar proyek tersebut berada.
            Keberadaan FO dalam kacamata ekonomi-sosial-budaya merupakan sesuatu yang dianggap positif, karena dengan adanya FO maka pengembangan usaha akan memberikan dampak positif terhadap struktur perekonomian pada umumnya karena banyaknya konsumen tentungan akan meningkatkan jumlah produksi dan akhirnya akan lebih indah ketika para pengajar harus mendengarkan dan memberikan penjelasan tentang permasalahan yang ada. Dengan adanya FO akan dapat meningkatkan penghasilan masyarakat di sekitarnya sehingga mereka dapat meningkatkan pendapatan negara melalui pajak-pajak yang mereka bayar.
            Dari segi geografi-fisik-kimia, keberadaan FO tidak berpengaruh secara signifikan dalam hal pencemaran, karena FO itu sendiri menjual produk yang merupakan barang jadi sehingga limbah dan lain sebagainya merupakan tanggung jawab produsen dimana produk tersebut diawasi. Namun yang paling terasa perubahan dan terkena pengaruhnya adalah  situasi dan kondisi tanah. Tapak proyek pembangunan FO tersebut akan menutupi pori tanah dalam kapasitasnya sebagai jalur penyerapan air ataupun lainnya
            Aspek biologi yang terkena dampak dengan adanya FO adalah manusia yang terlibat langsung dengan adanya proyek tersebut. Kerapatan vegetasi akan berkurang karena permukaan tanah tentunya tertutup dengan bahan baku seperti semen dan lain sebaginya.
            Kesehatan masyarkat secara perlahan namun pasti akan terpengaruhi dengan adanya FO tersebut. Dampak yang ditimbulkan bukanlah dampak langsung yang mana dengan adanya FO maka seketika itu pula kesehatan masyarakat menurun. Tetap keberadaan FO tersebut memicu adanya penurunan kualitas udara dan persedaan air tanah yang merupakan kebutuhan mendasar bagi kelangsungan hidup manusia.
            Dengan terbukanya peluang yang menjanjikan dengan mendirikan FO maka para pelaku bisnis pemilik modal menginvestasikan hartanya untuk mendirikan FO. Proyek pembangunan rencana usaha dan kegiatan FO tersebut tentunya harus lulus AMDAL agar dapat didirikan.
            Menjamurnya FO dengan AMDAL yang masih harus dipertanyakan karena pada kenyataannya seperti halnya di kota Bandung yang menjadi objek studi permasalahan ini akan memberikan dampak pada pendapatan kota dan juga peluang bisnis bagi masyarakat yang berdomisili di Bandung.
            Dampak positif seperti yang telah dijabarkan di atas tentunya merupakan bagian dari target yang ngin dicapa dalam tahap perencanaan sehingga harus dipertahankan dan ditingkatkan agar dapt memperbaiki aspek sosial-ekonomi-budaya yang erat katannya dengan adanya FO tersebut.
            Disisi lain dari dampak positif tersebut, juga ada dampak negatif yang dirasakan masyarakat. Menjamurnya FO mengakibatkan perubahan tata guna lahan yang mana keberadaan FO tersebut membuat keasrian alam di kota Bandung berubah menjadi bangunan-bangunan FO yang semakin menjamur.
            Menjamurnya FO tidak akan menjadi masalah apabila menggunakan AMDAL secara jujur dan dawasi dengan cermat. Selama ini proyek pembangunan FO yang berpotensi memberikan dampak yang besar dan penting  yang mengarah kepada dampak negatif tidak terlalu difikirkan sehingga menjamurnya FO d kota Bandung umumnya tidak dilengkapi dengan fasilitas pendukung yang memadai seperti tempat parkir yang luas untuk menampung semua kendaraan yang berkunjung FO di Bandung.
            Kemacetan lalu lintas dapat dipahami sebagai dari adanya kegiatan penduduk atau aktifitas ekonomi yang terjadi. Eksternalitas yang ditimbulkan akibat adanya kemacetan seperti terlalu banyaknya waktu yang di habiskan di jalan, polusi udara, ketidaknyamanan pengguna kerugian yang dialam oleh pengguna jalan kemudia dipandang sebagai dampak negatif lanjutan akibat adanya kemacetaan.
            Kemacetan lalu lintas juga bisa disebabkan karena kendaraan yang berdasal dari luar kota. Banyaknya kendaraan yang keluar masuk kota menandakan tingkat mobilitas yang tinggi pada kota tersebut. Bandung merupakan salah satu kota yang tingkat mobilitas penduduknya tinggi. Mobilitas juga menandakan tingginya produktivitas masyarakat di suatu wilayah dan juga menandakan skala ekonomi yang sudah semakin meluas, sehingga dapat dartikan bahwa Bandung merupakan kota yang cukup sibuk untuk memenuhi ketersediaan barang dan jasa untuk wilayah di luar kotanya.
            Lokasi FO yang menjamur dan tidak terpusat di satu tempat mengakibatkan kemacetan yang merata di berbagai titik dalam kota. Sikap pihak terkait berkenaan dengan AMDAL juga berpengaruh dalam kemacetan yang terjadi di kota Bandung. Meskipun telah dikatakan bahwa kesadaran masyarakat Indonesia terhadap lingkungan hidup semakin membaik, tetapi sampai saat ini masih banyak masyarakat  yang belum mengerti tentang AMDAL.
            Dalam pelaksanaannya, tahapan pembangunan di mulai pada tahap pra konstruksi harus sudah ada ANDAL yang mengkaji tentang dampak besar dan penting terhadap lingkungan yang akan timbul dengan adanya proyek pembangunan tersebut. Setiap rencana kegiatan yang diwajibkan untuk membuat AMDAL wajib mengumumkan rencana kegiatannta kepada masyarakat sebelum pemrakarsa melakukan penyusunan AMDAL.
            Dengan diumumkannya informasi mengenai proyek yang akan dibangun masyrakat akan mengetahui dan menyadari dampak apa yang akan mereka rasakan baik positif maupun negatif. Aspirasi dan persepsi masyarakat sekitar tentang rencana pembangunan haruslah baik dan mendukung agar tidak menghambat di kemudian hari. Untuk menimbulkan persepsi yang baik dari masyarakat tentunya perlu ada upaya untuk meyakinkan mereka yaitu menggunakan AMDAL.
            Demikian pula dengan pembangunan FO yang ada di Bandung. Mode sebagai salah satu ikon kota Bandung yang paling menonjol juga memerlukan AMDAL dalam mendirikan bangunan tempat usahanya terutama yang berada di dalam kota Bandung yang juga berkatan dengan rencana tata ruang wilayah kota Bandung. Jangan sampai hal-hal yang dirumuskan dalam AMDAL bertentangan dengan RTRW kota Bandung sehingga akan menimbulkan dampak besar dan penting di bidang sosial-ekonomi-budaya yang akan memicu munculnya dampak lain yang menuju ke arah negatif.
            Berikut ini dokumentasi salah satu FO yang berada di Jalan DR. Setiabudhi yang merupakan salah satu titik rawan kemacetan dikarenakan lokasi FO yang berada di pinggir jalan utama yang merupakan jalan dua jalur dengan kondisi jalan yang sempit semakin memicu terjadinya kemacetan yang juga dikarenakan keluar masuknya kendaraan ke wilayah FO tersebut sehingga menghambat pengendara lainnya.


Gambar: Salah satu FO yang memicu terjadinya kemacetan

            Selain penempatan wilayah tapak proyek pembangunan FO tentunya dalam ANDAL telah dikaji mengenai dampak yang akan timbul bukan semata-mata karena strategis dalam menarik perhatian dan minat konsumen tetapi dampak sosal yang lebih luasnya karena lingkungan sekitar okasi FO tersebut berdampingan dengan pemukiman dan tempat makhluk hidup lainnya melakukan aktivitas sehari-hari.
            Salah satu pembangunan FO yang disinyalir dibangun untuk menguntungkan sebagian pihak saja karena posisi tapak proyek yang berada di daerh yang tanpa adanya FO tersebut juga sudah rawan kemacetan terlebih dengan adanya FO tersebut yakni Rumah Mode yang berada di jalan Dr. Setiabudhi yang merupakan pertemuan arus lalu lintas dengan kendaraan yang berasal dari jalan Cipaganti. Berikut ini denah lokasi FO Rumah Mode,

            Kemacetan sebagai dampak lingkungan yang timbul karena adanya FO yang menjamur dikota Bandung merupakan permasalahan yang harus segera diselesaikan dengan berbaga alternatif solusi. Karena jika kemacetan tersebut dibiarkan terus-menerus makan akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi dan mobilitas masyarakat.
            Untuk menangan masalah kemacetan, tidak bisa dilakukan untuk memperlancar arus lalu lintas saja tetapi harus juga memilik dampak yang positif dalam bidang ekonomi. Oleh karena itu, solusi pertama yang ditawarkan untuk mengatasi kemacetan di kota Bandung adalah dengan menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah lain yang berpotensi untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Dengan demikian diharapkan jalanan akan menjad lancar karena pusat pertumbuhan tidak berada di sati titk saja dan akan menumbuhkan ekonomi baru yang tentunya akan tumbuh dan berkembang sehingga mngguntungkan bagi kota Bandung.
            Solusi berikutnya adalah mensinkronkan kebijakan ekonomi dengan kebijakan/ perencanaaan transportasi dan sebaliknya. Misalnya dengan menerapkan sistem pusat dan sub-pusat kota. Pusat kota merupakan pusat aktivitas ekonomi perkotan yang melayani internal dan eksternal perkotaaan. Perencanaan transportasi yang bisa dilakukan misalnya jalan yang melalui pusat in setidaknya harus jalan besar dengan kapastas yang besar pula karena harus menampung pergerakan arus dari dalam dan luar kota.
            Dengan demikian kota masih mendapatkan keuntungan secara ekonom tetapi tidak menimbulkan kemacetan di dalam kota. Industri-industri besar yang banyak membutuhkan supply barang dari luar basanya diletakkan d pinggir kota juga. (HMP PL ITB)
            Karena mnejamurnya FO dengan berbaga alternatif pilihan yang telah menjadikan mode sebagai bagian dari gaya hidup tentunya orang akan berbondong-bondong untuk menemukan dan menuju lokasi FO yang menari minat dan perhatiannya. Aktivitas tersebutlah yang pada akhirnya menimbulkan kemacetan.
            Demi menyikapi permasalahan tersebut, maka kemacetan di kota Bandung dapat dihindari dengan cara menyediakan angkutan moda transportasi publik masal yang memfasilitasi masyarakat untuk mencapai tempat tujuannya dengan cepat dan efektif. Karena untuk saat ini, angkutan umum yang lazimnya digunakan di kota Bandung adalah angkutan kota (angkot). Padahal angkot tersebut tidak bisa mengantarkan penumpang ke tempat tujuan dengan cepat karena supr berusaha mendapatkan penumpang sebanyak-banyaknya sehingga banyak menggunakan waktu di jalan untuk berhenti dan mencari penumpang lainnya.
            Mengingat dan memperhatikan bahwa FO yang ada di kota Bandung dibangun di atas lahan yang terbatas yang sangat berdekatan dengan ruas jalan akan menimbulkan kemacetan dan mengganggu daerah resapan air sehingga pada akhirnya akan menimbulkan banjir dan masalah lingkungan lainnya.
            Solusi selanjutnya yang ditawarkan untuk mengatasi permasalahan lingkungan adalah dengan menyediakan lahan parkir di pusat keramain seperti halnya FO tersebut. Dengan adanya lahan parkir yang memadai akan manghndari kendaraan yang diparkir di bahu jalan di sepanjang FO berada.
            Untuk mengurangi kemacetan sebaiknya pemerintah kota Bandung memperbaiki infrastruktur kendaraan umum, membatasi pembelian kendaraan pribadi, memperlebar jalan, membangun angkutan umum anti macet seperti monorel, memaksimalkan kinerja Trans Metro Bandung (TMB), menurunkan tarif angkutan umum agar masyarakat menggunakan jasa angkutan umum, semua itu dilakukan untuk mempermudah mencapai FO yang menjadi tujuan masyarakat dan yang paling penting adalah menertibkan bangunan dan bentuk usaha lainnya yang berada di dalam kawasan yang tidak ada dalam rencana tata ruang wilayah terutama yang tidak mmiliki izin dan tidak sesuai dengan AMDAL.
Simpulan
            Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan adanya FO yang menjamur di kota Bandung berdampak positif dan negatif terhadap lingkungan. Secara ekonomi keberadaan FO tersebut memberikan keuntungan dan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan ekonom masyarakat dan kota Bandung.
            FO yang tidak manyediakan lahan parkir yang memadai akan memicu terjadinya kemacetan. Kemacetan akan berujung pada kerugian waktu dan lain sebagainya, sehingga setiap FO yang didirikan haru memilik AMDAL dan dibangun dengan konsep berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
            FO pada umumnya dibangun sedemikian rupa untuk membuat konsumennya merasa nyaman berbelanja di tempat tersebut. Penataan FO tersebut menggunakan semen dan lain sebagainya untuk jalan disekeliling bangunannya seringga menutup permukaan tanah dan itu berarti akan mengurangi porositas sehingga apabila turun hujan air akan tergenang hingga terakhir akan terjadi banjir.








DAFTAR PUSTAKA

http://dewey.petra.ac.id/jiunkpe_dg_2669.html
http://zulidamel.wordpress.com/2010/04/30/pembangunan-berwawasan-lingkungan/
http://awaluddin.web.id/?p=234
http://km.itb.ac.id/site/?p=7255
http://seeusingazette.blogspot.com/2011/11/peluang-bisnis-meningkat-bandung-tambah.html
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=200046
http://rudimenulis.blogspot.com/2012/07/solusi-kecil-mengatasi-kemacetan-di.html

http://jurnalbandung.blogspot.com/2010/11/solusi-kemacetan-di-bandung.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar